11.59, adalah puncaknya. Hari ini adalah pendendangnya. Tiap rupiah yang terkuras, tiap raga yang tertawa lepas, tiap musik yang terdendang ganas, apakah ini pertanda hilangnya kita?
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”(HR. Ahmad dan Abu Daud)Ini bukan tahun kita, ini bukan bulan kita, ini mereka. Hilangnya diri kita terhadap apa yang seharusnya menjadi milik kita. Baru beberapa ratus tahun lamanya, islam berdiri dengan kokoh tegar melawan seluruh lawan, kini hancur tertumbuk kata, selamat tahun baru kawan.
Inikah diri kita? Inikah dunia kita? Setiap agama memiliki kalender masing-masing, namun kenapa kita memilih untuk percaya dengan kalender mereka? Mana islam kita? Mana diri kita? Mana harga diri kita?
لا يجوز للمسلمين تبادل التهاني بمناسبة رأس
السنة الميلادية ، كما لا يجوز لهم الاحتفال بذلك ؛ لما في الأمرين من
التشبه بالكفار ، وقد نهينا عن ذلك
Alhamdulillah. Tidak boleh bagi kaum Muslimin saling
memberikan ucapan selamat tahun baru masehi,sebagaimana tidak boleh bagi
mereka merayakannya (tidak boleh mengadakan perayaan tahun baru
masehi),karena kedua perbuatan tersebut termasuk bentuk tasyabbuh
(menyerupai) orang-orang kafir, sedangkan kita dilarang melakukan hal
itu. (Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid rahimahumallah)
Kawan, ini bukan lagi masalah sosial, budaya, ini masalah agama. Apa yang dirayakan mereka bukanlah apa yang dirayakan oleh kita. Lenggok yang mereka lakukan bukanlah lenggok yang kita lakukan. Diri mereka bukanlah diri kita. Bisakah kita berhenti menyamainya?
من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة
“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan
Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai
mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”Hari ini kita berduka, dengan kisaran 2,1 milyar penduduk islam dunia, masih ada sebagiannya yang merayakan apa yang bukan dirinya, terjajah globalisasi dan persatuan antar agama, ini sudah gila. Khilafah yang dulu terjadi beberapa generasi tidak berharap seperti ini, generasi awal islam akan malu melihat ini, berbagai hadits rasulullah tidak ada yang menyampaikan mengenai hal ini, namun mengapa kita tetap melakukannya?
Tidakkah para sahabat, ulama, Rasul kita, cukup bagi kita? Mengapa kita memilih mereka?
يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku
dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah
ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)Cukuplah bagi kita menjadi teman-teman baik bagi kawan seagama kita, dan menjauhi apa yang bukan menjadi diri kita, bukan menjadi harga diri kita, bukan lah kita. Semoga Allah merahmati kita semua, dan mengampuni siapa saja yang merasa muslim yang masih merayakan tahun baru non muslim ini, dan memberikan bagi mereka hidayahNya.
Ini adalah mereka, ini bukan kita
يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ
أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ
قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ،
وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ
الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ
الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ
وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ “
“Hampir saja, banyak umat dari berbagai penjuru dunia akan
memperebutkan kalian, sebagaimana makanan di atas piring diperebutkan.”
Kami bertanya, ‘Apakah karena jumlah umat islam ketika itu sedikit?’Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak, ketika itu jumlah kalian (kaum muslimin) banyak. Namun kalian seperti buih di lautan. Allah hilangkan rasa takut di mata musuh kalian (orang kafir), dan Allah sematkan penyakit ‘wahan’ di hati kalian.” Sahabat bertanya, ‘Apa itu penyakit wahan?’ Beliau bersabda, “Penyakit cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad 8713, Abu Daud 4299, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar